KEMAYORAN 1954
Hari panas terik kaca mata hitam tak kubuka ketika menulis
pada Bon : " 1/2 Anker Bier " dengan suatu kelegaan mengenakan
segarnya minuman yang kupesan dalam hawa yang gersang ini. Di angkasa sedang
berkeliling sebuah pesawat terbang yang mau mendarat. Bunyinya yang berat
menggetarkan udara sejuk di bawah atap "Airport", restoran
lapangan terbang Kemayorn tempat aku duduk.
Dengan keluh kenikmatan aku bersandar malas
ke kursi memandang dengan setengah ngantuk pada landasan yang putih menyilaukan
kena sinar matahari. Pelayan-pelayan dengan giat berjalan kian kemari dengan
baju putih dan ikat kepala birunya melayani tamu-tamu dari berbagai bangsa.
Pesawat terbang yang sudah lama
melayang-melayang itu, kini mendarat di landasan dan melancar sampai ke depan
restoran sebuah Constellation kepunyaan BOAC. Penumpang-penumpang, anak buahnya
semuanya keluar. Dibelakang ku kursi menggerak di lantai. Aku dengar suara
lelaki berkata, "sebentar lagi announcer akan memanggil. Nah Tina selamat
tinggal, ini kunci mobil. jangan lupa hari jum'at 2 mingu lagi aku kau jemput
disini, " kemudian aku dengar suara anak kecil, " Bapa, bapa ! bapa
mau pelgi ? "
" ya Nina bapak mau pergi. Nina
jangan cengeng ya, nanti bapak bawa boneka untuk Nina, "
" boneka bapa ? boneka yang bisa
tidul ? "
" ya boneka yang bisa tidur,
membuka dan menutup mata. dan juga bisa menangis, "
kemudian suara wanita, " lekaslah
kembali, dik . Kalau bisa sebelum 2 minggu itu lewat. kirim telegram supaya aku
tau, "
" kuusahaakan Tina meskipun
kansnya sedikit. persiapan untuk mendirikan cabang di Singapura kurang lancar
dan hingga sekarang . Karena itu aku datang sendiri, "
" bapa, bapa pelgi kemana ?
" tanya anak kecil itu lagi dan kini aku melirik ke arah itu .
lelaki yang bernama " dik "
tengah berdiri dan menutup tasnya. Istrinya yang dipanggil dengan nama
Tina duduk memandang kepadanya denga cara yang jadi idaman setiap suami .
Nina seorang adik kecil sekitar umur 3 tahun mencengkram celana ayahnya "
pelgi kemana bapa ? " tanyanya lagi .
ayah telah selesai menutup tas dan duduk
kembali dan memangku Nina sambil tersenyum .
" bapak mau pergi terbang Nina. "
" kemana bapa ? "
" ke tempat dewi-dewi yang cantik Nina.
"
" dimana itu bapa ? "
" di sorga. "
" di solga ? "
" ya . "
" bapa bisa terbang bapa ? "
" tidak manis. bapak naik burung, itu
dia sudah menunggu ."
" bulung bapa ? "
" ya, itu dia ! "
" besar betul ya bapa bulung nya,
"
" ya nanti bapak dan banyak orang masuk
keperutnya , "
" bapa dimakan oleh bulung itu ? "
tanya Nina tercenggang dan takut .
" tidak, " ayahnya ketawa "
bapak masul leawat lubang, itu di perutnya. "
sejurus Nina diam dan
kemudian mulai lagi .
" bulungnya kok diam saja bapa ? "
" sekarang dia masih tidur . "
" tidul ? "
" ya masih tidur, karena ia sangat
lelah. "
" nanti dia bangun bapa ? "
" ya kalau mau terbang ia bangun, dan
mengaung seperti singa, "
Anak kecil itu bertanya terus, tetapi tak
begitu terang kedengaran karena announcer sedang menggil para penumpang via
loudspeaker. denga ucapan dan gaya yang sama dia mengumumkan panggilan didalam
bahasa inggris, bahasa indonesia dan Belanda. kedua suami istri beserta anaknya
tersebut berdiri lalu menuju ke tempat Duane. Dan aku nmelihat ke depan
lagi. Aku temui di mejaku sudah ada botol kecil “anskerpils “. Dan sebuah gelas
yang telah terisi.
Ketika gelas kuangkat ke mulut terdengar dari loadspeaker
menggelombang denga sayu “ Aufwiederseh’n “. Dan pikiranku terhanyut oleh
melodi nyanyian itu . Tatkala itu aku lihat nyonya Tina kembali dan berjalan
lewat restauran menuju ke pagar besi yang memisahkan landasan dengan pekarangan
“Airport “. Tempat sudah banyak orang berkerumun memandang plane yang mau
berangkat. Nina di gendong pada pinggang kiri ibunya. Tak lama kemudian mereka
dan orang-orang yang berkerumum disitu melambai-lambai kepada para penumpang
yang mau naik. Dan loadspeaker terus mendendangkan “ Auf wiederseh’n, Auf
wiederseh we’ll meet again sweetheart “. Rupa-rupanya di repeat oleh
sterwarders yang melayani record-changer .
Ketika propeller Connie itu mulai berputar, lagu “ Auf wiederseh’n “
disusul oleh lagu “ it’s the time to say good by “ yang lebih sentimentil dan
merayu daripada lagu pertama. Aku lihat para gadis menangis dan pemandangan itu
cocok benar pada latar belakang lagu itu . Connie itu bergerak dan lambaian
tangan makin seru. Ketika itu aku membayar dan langsung pergi. Pada hari
berikutnya aku dengar kabar, bahwa constellation itu jatuh terbakar habis di
Singapura, semua penumpang dari jakarta telah tewas. Aku teringat kpada jawaban
dik kepada Nina “ Bapak mau pergi ke sorga “.
Dua minggu yang lalu pada hari jum’at aku dari percetakan “
Martaco “ terus ke “ Airport “. Di pintu aku tertegun sebentar kepada kursi
yang di tempatinya 2 minggu yang lalu duduk nyonya Tina dan Nina yang berdiri
di dekatnya. Tentu saja kursi tempat dik duduk hari ini kosong, kebetulan
sekali kursiku kosong. Aku duduk dan memesan Spa Cola. Tepat ketika itu Plane
KLM dari Singapura datang. Aku dengar kursi menggerak di lantai. Aku melirik
lagi, aku lihat Tina berdiri, Nina mencengkram kakinya. Wajahnya yang belia,
merah dan basah. Matanya bengkak hidungnya kemerah-merahan .
“bunda bapa datang ? “ tanya Nina . Ibunya menghempaskan dirinya
ke kursi sambil menangis tersedu-sedu seraya mencoba meredupkan di dalam sapu
tangan. Pelayan-pelayan memandang penuh pengertian dari jauh. Rupa-rupanya
mereka juga tau .
“ Bunda, bunda kok nangis saja ? “ tanya Nina tak mengerti.
Tina meraih anaknya kepangkuannya. “ diamlah Nina di dulu manis. “ katanya
terisak-isak. Dan Nina tak bertanya lagi, meskipun caranya memandang kepada
ibunya membayangkan tanda tanya yang besar. Sebentar-sebentar ia menengok
kepada 2 pesawat terbang yang berdiri di dekta restauran, sebuah plane BOAC
yang mau berangkat dan satunya plane KLM yang baru datang, ketika itu “ Auf
wiederseh’n “ mengalun lagi. Tangis Tina sudah reda, dan Nina tidak betah diam
saja.
“ bunda ?” tanyanya “ bunda bapa kok tidak datang-datang
dari solga bunda ? “
Tina tak segera menjawab pertanyaan anaknya. Rupa-rupanya ia
berjuang melawan tangis .
“ tidak Nina bapa tidak pulang, “
“ kenapa bunda ? bapa bilang mau bawa boneka dali solga.
Boneka yang bisa tidul dan nangis. kenapa tidak datng bunda ? “
“ tidak Nina, “ tangis ibunya “ bapak tidak akan pulang dari
solga. Mari kita pulang manis, mari pulang, “
Ia melambai pelayan yang sudah menanti membayar. Lalu
berjalan bersam Nina denga dukungan. Aku pandang mereka lenyap di balik pintu.
Dari loadspeaker suara merayu “ it's the time to say good bye. “ dan deru
propeller menggetarkan angkasa .