Senin, 27 April 2015

Cerpen Tiga Kota "Kemayoran 1954"

KEMAYORAN 1954

                 Hari panas terik kaca mata hitam tak kubuka ketika menulis pada Bon : " 1/2 Anker Bier " dengan suatu kelegaan mengenakan segarnya minuman yang kupesan dalam hawa yang gersang ini. Di angkasa sedang berkeliling sebuah pesawat terbang yang mau mendarat. Bunyinya yang berat menggetarkan udara sejuk di bawah atap  "Airport", restoran lapangan terbang Kemayorn tempat aku duduk.
                Dengan keluh kenikmatan aku bersandar malas ke kursi memandang dengan setengah ngantuk pada landasan yang putih menyilaukan kena sinar matahari. Pelayan-pelayan dengan giat berjalan kian kemari dengan baju putih dan ikat kepala birunya melayani tamu-tamu dari berbagai bangsa.
                 Pesawat terbang yang sudah lama melayang-melayang itu, kini mendarat di landasan dan melancar sampai ke depan restoran sebuah Constellation kepunyaan BOAC. Penumpang-penumpang, anak buahnya semuanya keluar. Dibelakang ku kursi menggerak di lantai. Aku dengar suara lelaki berkata, "sebentar lagi announcer akan memanggil. Nah Tina selamat tinggal, ini kunci mobil. jangan lupa hari jum'at 2 mingu lagi aku kau jemput disini, " kemudian aku dengar suara anak kecil, " Bapa, bapa ! bapa mau pelgi ? "
                 " ya Nina bapak mau pergi. Nina jangan cengeng ya, nanti bapak bawa boneka untuk Nina, "
                 " boneka bapa ? boneka yang bisa tidul ? "
                 " ya boneka yang bisa tidur, membuka dan menutup mata. dan juga bisa menangis, "
                 kemudian suara wanita, " lekaslah kembali, dik . Kalau bisa sebelum 2 minggu itu lewat. kirim telegram supaya aku tau, "
                 " kuusahaakan Tina meskipun kansnya sedikit. persiapan untuk mendirikan cabang di Singapura kurang lancar dan hingga sekarang . Karena itu aku datang sendiri, "
                 " bapa, bapa pelgi kemana ? " tanya anak kecil itu lagi dan kini aku melirik ke arah itu .
                 lelaki yang bernama " dik " tengah berdiri dan menutup tasnya. Istrinya yang  dipanggil dengan nama Tina duduk memandang kepadanya denga cara yang jadi  idaman setiap suami . Nina seorang adik kecil sekitar umur 3 tahun mencengkram celana ayahnya " pelgi kemana bapa ? " tanyanya lagi .
                ayah telah selesai menutup tas dan duduk kembali dan memangku Nina sambil tersenyum .
                " bapak mau pergi terbang Nina. "
                " kemana bapa ? "
                " ke tempat dewi-dewi yang cantik Nina. "
                " dimana itu bapa ? "
                " di sorga. "
                " di solga ? "
                " ya . "
                " bapa bisa terbang bapa ? "
                " tidak manis. bapak naik burung, itu dia sudah menunggu ."
                " bulung bapa ? "
                " ya, itu dia ! "
                " besar betul ya bapa bulung nya, "
                " ya nanti bapak dan banyak orang masuk keperutnya , "
                " bapa dimakan oleh bulung itu ? " tanya Nina tercenggang dan takut .
                " tidak, " ayahnya ketawa " bapak masul leawat lubang, itu di perutnya. "
sejurus Nina diam dan kemudian mulai lagi .
               " bulungnya kok diam saja bapa ? "
               " sekarang dia masih tidur . "
               " tidul ? "
               " ya masih tidur, karena ia sangat lelah. "
               " nanti dia bangun bapa ? "
               " ya kalau mau terbang ia bangun, dan mengaung seperti singa, "
               Anak kecil itu bertanya terus, tetapi tak begitu terang kedengaran karena announcer sedang menggil para penumpang via loudspeaker. denga ucapan dan gaya yang sama dia mengumumkan panggilan didalam bahasa inggris, bahasa indonesia dan Belanda. kedua suami istri beserta anaknya tersebut berdiri lalu menuju ke tempat Duane. Dan aku nmelihat ke depan lagi. Aku temui di mejaku sudah ada botol kecil “anskerpils “. Dan sebuah gelas yang telah terisi.
              Ketika gelas kuangkat ke mulut terdengar dari loadspeaker menggelombang denga sayu “ Aufwiederseh’n “. Dan pikiranku terhanyut oleh melodi nyanyian itu . Tatkala itu aku lihat nyonya Tina kembali dan berjalan lewat restauran menuju ke pagar besi yang memisahkan landasan dengan pekarangan “Airport “. Tempat sudah banyak orang berkerumun memandang plane yang mau berangkat. Nina di gendong pada pinggang kiri ibunya. Tak lama kemudian mereka dan orang-orang yang berkerumum disitu melambai-lambai kepada para penumpang yang mau naik. Dan loadspeaker terus mendendangkan “ Auf wiederseh’n, Auf wiederseh we’ll meet again sweetheart “. Rupa-rupanya di repeat oleh sterwarders yang melayani record-changer .
            Ketika propeller Connie itu mulai berputar, lagu “ Auf wiederseh’n “ disusul oleh lagu “ it’s the time to say good by “ yang lebih sentimentil dan merayu daripada lagu pertama. Aku lihat para gadis menangis dan pemandangan itu cocok benar pada latar belakang lagu itu . Connie itu bergerak dan lambaian tangan makin seru. Ketika itu aku membayar dan langsung pergi. Pada hari berikutnya aku dengar kabar, bahwa constellation itu jatuh terbakar habis di Singapura, semua penumpang dari jakarta telah tewas. Aku teringat kpada jawaban dik kepada Nina “ Bapak mau pergi ke sorga “.
             Dua minggu yang lalu pada hari jum’at aku dari percetakan “ Martaco “ terus ke “ Airport “. Di pintu aku tertegun sebentar kepada kursi yang di tempatinya 2 minggu yang lalu duduk nyonya Tina dan Nina yang berdiri di dekatnya. Tentu saja kursi tempat dik duduk hari ini kosong, kebetulan sekali kursiku kosong. Aku duduk dan memesan Spa Cola. Tepat ketika itu Plane KLM dari Singapura datang. Aku dengar kursi menggerak di lantai. Aku melirik lagi, aku lihat Tina berdiri, Nina mencengkram kakinya. Wajahnya yang belia, merah dan basah. Matanya bengkak hidungnya kemerah-merahan .
             “bunda bapa datang ? “ tanya Nina . Ibunya menghempaskan dirinya ke kursi sambil menangis tersedu-sedu seraya mencoba meredupkan di dalam sapu tangan. Pelayan-pelayan memandang penuh pengertian dari jauh. Rupa-rupanya mereka juga tau .
              “ Bunda, bunda kok nangis saja ? “ tanya Nina tak mengerti. Tina meraih anaknya kepangkuannya. “ diamlah Nina di dulu manis. “ katanya terisak-isak. Dan Nina tak bertanya lagi, meskipun caranya memandang kepada ibunya membayangkan tanda tanya yang besar. Sebentar-sebentar ia menengok kepada 2 pesawat terbang yang berdiri di dekta restauran, sebuah plane BOAC yang mau berangkat dan satunya plane KLM yang baru datang, ketika itu “ Auf wiederseh’n “ mengalun lagi. Tangis Tina sudah reda, dan Nina tidak betah diam saja.
              “ bunda ?” tanyanya “ bunda bapa kok tidak datang-datang dari solga bunda ? “
              Tina tak segera menjawab pertanyaan anaknya. Rupa-rupanya ia berjuang melawan tangis .
              “ tidak Nina bapa tidak pulang, “
              “ kenapa bunda ? bapa bilang mau bawa boneka dali solga. Boneka yang  bisa tidul dan nangis. kenapa tidak datng bunda ? “
              “ tidak Nina, “ tangis ibunya “ bapak tidak akan pulang dari solga. Mari kita pulang manis, mari pulang, “
              Ia melambai pelayan yang sudah menanti membayar. Lalu berjalan bersam Nina denga dukungan. Aku pandang mereka lenyap di balik pintu. Dari loadspeaker suara merayu “ it's the time to say good bye. “ dan deru propeller menggetarkan angkasa .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ads 468x60px

Copyright Text

Featured Posts